Widya dan Intan, Dua Sosok Srikandi Laut Penakluk Ombak
Font Terkecil
Font Terbesar
TANADOANG UPDATE | SELAYAR — Widia dan Intan merupakan dua dari sekian banyak sosok perempuan tangguh yang memilih menapaki kehidupan sebagai pelaut di usia yang masih relatif belia.
Keputusan Widia menjalani profesi sebagai pelaut wanita lahir dari pilihan pribadinya sendiri, tanpa intervensi pihak manapun.
Pilihan tersebut terinspirasi oleh profesi sang kakek serta lingkungan keluarga besarnya yang mayoritas berprofesi sebagai pelaut.
Selain ingin membuktikan ketangguhan perempuan dalam membelah dan menaklukkan gelombang laut, Widia sengaja memilih jalur kehidupan di dunia maritim sebagai bentuk pembuktian bahwa perempuan memiliki kemampuan, keberanian, dan daya juang yang setara dengan laki-laki dalam menjalani profesi pelayaran.
Meski profesi pelaut dikenal sarat risiko dan konsekuensi tinggi, hal tersebut tidak menyurutkan tekad Widia untuk terus berlayar dan bertahan di tengah kerasnya kehidupan laut.
Baginya, menjadi pelaut wanita bukan sekadar pekerjaan, melainkan bentuk pengabdian, kebanggaan, sekaligus perjuangan untuk mematahkan stigma bahwa dunia pelayaran hanya diperuntukkan bagi kaum laki-laki.
Profesi sebagai pelaut wanita telah dilakoninya selama kurang lebih satu tahun terakhir, jauh sebelum dirinya dipercaya mengemban amanah sebagai Second Officer di kapal Landing Craft Tank (LCT) Five Star 38.
Dalam menjalankan tugasnya, Widia dituntut memiliki ketelitian, kedisiplinan, serta tanggung jawab tinggi terhadap keselamatan pelayaran dan seluruh awak kapal.
Di tengah keterbatasan dan tantangan yang masih dihadapi perempuan di sektor maritim, Widia tetap menunjukkan dedikasi dan semangat kerja yang tinggi. Kehadirannya bersama Intan menjadi simbol bahwa perempuan juga mampu mengambil peran penting di dunia pelayaran serta berkontribusi dalam industri maritim nasional.
Meski hanya berdua dengan Intan, perempuan kelahiran 13 Agustus 2005 berusia dua puluh tahun yang menyelesaikan pendidikan di Akademi Pelayaran Subang tahun 2024 tersebut sama sekali tidak memiliki keraguan maupun kekhawatiran untuk berada di tengah lingkungan kerja yang didominasi kaum pria.
Menurutnya, selama mampu menjaga profesionalisme, disiplin, dan etika kerja, perempuan dapat diterima dan dihargai setara dengan awak kapal lainnya.
Widia mengaku, tantangan terbesar selama bekerja di atas kapal bukan hanya menghadapi cuaca buruk dan tingginya ombak di tengah laut, melainkan juga menjaga kondisi mental dan fisik agar tetap prima selama menjalani pelayaran dalam waktu yang cukup panjang.
Namun seluruh tantangan tersebut justru menjadi pengalaman berharga yang semakin membentuk karakter, ketangguhan, serta rasa tanggung jawabnya sebagai seorang pelaut wanita.
Bagi Widia dan Intan, profesi pelaut bukan sekadar mata pencaharian, tetapi juga jalan hidup yang dipilih dengan penuh kesadaran dan kebanggaan. Keduanya berharap kehadiran mereka di dunia maritim dapat menjadi inspirasi bagi perempuan-perempuan muda lainnya agar tidak takut mengejar cita-cita, termasuk di bidang pekerjaan yang selama ini identik dengan kaum laki-laki. (ffr)
